Thursday, 8 January 2026

TEROR TERHADAP PENGKRITIK

Serangkaian Teror yang menimpa aktivis dan pemengaruh media sosial yang mengkritik penanganan bencana di Sumatera. Mereka dikirim bangkai hewan hingga pesan yang berisi ancaman pembunuhan. 



1. RAMOND DONY ADAM / DJ DONNY (Musisi, Pemengaruh)

Sejumlah kreator konten dan aktivis di Indonesia mengaku menjadi sasaran teror dan ancaman pembungkaman yang terjadi hampir bersamaan dalam beberapa waktu terakhir. Rentetan peristiwa ini memicu kekhawatiran luas di kalangan masyarakat sipil, yang menilai fenomena tersebut sebagai tanda menguatnya tren anti kritik yang berbahaya bagi iklim demokrasi dan kebebasan berekspresi di Tanah Air.

Salah satu kasus paling mencolok dialami oleh seorang kreator konten dengan nama pengguna DJ Donny. Ia mengungkapkan bahwa rumahnya menjadi sasaran serangan bom molotov yang dilempar oleh dua orang tak dikenal. Insiden tersebut terjadi setelah dirinya aktif menyuarakan kritik dan pandangan terkait penanganan bencana yang terjadi di wilayah Sumatera. Merasa keselamatannya terancam, DJ Donny akhirnya memutuskan untuk melaporkan kejadian itu kepada pihak kepolisian.

Dalam keterangannya, DJ Donny berharap aparat penegak hukum dapat mengungkap pelaku dan motif di balik aksi teror tersebut. Menurutnya, proses hukum yang transparan penting agar tidak menimbulkan spekulasi liar di tengah publik yang mengikuti kasus ini. Ia juga menegaskan bahwa teror semacam ini tidak seharusnya terjadi di negara demokratis yang menjunjung tinggi kebebasan berpendapat.

Organisasi masyarakat sipil turut menyoroti rangkaian teror ini. Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) menilai terdapat pola yang mengkhawatirkan dalam berbagai aksi intimidasi dan kekerasan terhadap aktivis serta kreator konten. SAFEnet mencatat bahwa sejumlah korban merupakan individu yang vokal mengkritisi kebijakan publik, khususnya terkait penanganan bencana alam. Hal ini, menurut mereka, mengindikasikan adanya upaya sistematis untuk membungkam suara-suara kritis di ruang publik.

Sikap serupa disampaikan oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). YLBHI mengecam keras segala bentuk pengancaman dan teror yang ditujukan kepada kreator konten maupun aktivis. Mereka menyebut tindakan tersebut sebagai “cara-cara biadab” yang tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mencederai dan mempermalukan prinsip-prinsip demokrasi. YLBHI menegaskan bahwa perbedaan pendapat dan kritik merupakan bagian sah dari kehidupan berdemokrasi yang seharusnya dilindungi oleh negara.

Di sisi lain, pemerintah juga menyatakan sikap tegas. Melalui Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia, pemerintah menolak dan mengecam segala bentuk intimidasi, ancaman, maupun teror terhadap warga negara. Pemerintah menegaskan bahwa setiap orang, termasuk kreator konten dan aktivis, memiliki hak untuk menyampaikan kritik tanpa rasa takut. Selain itu, pemerintah mendorong aparat penegak hukum untuk memproses secara hukum apabila terdapat dugaan tindak pidana dalam kasus-kasus teror tersebut.



SAFEnet dalam laporannya juga mengungkapkan bahwa dalam satu tahun terakhir terjadi peningkatan dua kali lipat kasus pelanggaran kebebasan berekspresi dan keamanan digital. Mayoritas korban dalam kasus-kasus tersebut adalah aktivis yang aktif menyuarakan isu-isu publik. Temuan ini semakin memperkuat kekhawatiran bahwa ruang demokrasi dan kebebasan berpendapat di Indonesia tengah menghadapi tantangan serius. Masyarakat sipil mendesak agar negara hadir secara nyata untuk melindungi warganya, menjamin kebebasan berekspresi, serta memastikan bahwa pelaku teror dan intimidasi dapat diadili secara adil. Tanpa penegakan hukum yang tegas, mereka khawatir praktik pembungkaman akan terus berulang dan menggerus fondasi demokrasi yang selama ini dibangun.

DJ DONNY (Kreator konten, DJ Donny, mendapat kiriman bangkai ayam dan pesan bernada ancaman terkait kontennya di media sosial.) 

Sumber: https://www.bbc.com/indonesia/articles/cz7y3ydppg7o.amp 

2. JULIUS IBRANI (Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia)

Nama Julius Ibrani menjdi perhatian publik setelah menjadi salah satu korban dalam kasus yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Sosok yang dikenal aktif dalam dunia hukum dan advokasi ini disebut mengalami dampak serius akibat peristiwa tersebut, baik secara profesional maupun personal. Sebagai figur publik yang selama ini vokal menyuarakan isu-isu keadilan dan penegakan hukum, keterlibatan nama Julius Ibrani dalam kasus ini memunculkan sorotan luas dari masyarakat. Tekanan opini publik yang berkembang dinilai cukup besar, mengingat posisinya yang kerap berada di garis depan dalam berbagai isu sensitif. 

Kejadian intimidasi terhadap Ketua PBHI, Julius Ibrani, bermula dari kritik tajam yang ia sampaikan mengenai kegagalan koordinasi pemerintah dalam menangani bencana besar yang melanda wilayah Sumatera pada awal Desember 2025. Tak lama setelah pernyataan publiknya tersebar, Julius menerima serangkaian panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal yang berisi peringatan agar dirinya "tidak memperkeruh keadaan." Tekanan ini diduga kuat berkaitan dengan upaya pembungkaman terhadap pengawasan publik, mengingat saat itu Julius sedang menyoroti lambatnya pengiriman bantuan ke daerah terisolasi serta penolakan pemerintah terhadap bantuan internasional, meskipun jumlah pengungsi telah menembus angka satu juta jiwa. 

Menanggapi laporan mengenai teror tersebut, Menteri HAM Natalius Pigai pada awal Januari 2026 sempat memberikan klarifikasi dengan membantah bahwa negara atau institusi pemerintah berada di balik tindakan tersebut. Namun, peristiwa ini tetap dipandang oleh organisasi masyarakat sipil sebagai ancaman serius terhadap kebebasan berpendapat dan transparansi di Indonesia. Bagi para aktivis, pola intimidasi melalui kanal pribadi seperti ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan bentuk chilling effect yang sengaja diciptakan untuk meredam kritik atas kebijakan penanggulangan bencana yang dianggap tidak efektif dan merugikan warga terdampak di Sumatera.

Sumber: 

(https://pbhi.or.id/praktik-intimidasi-dan-teror-terhadap-masyarakat-merupakan-ancaman-serius-bagi-demokrasi-dan-kebebasan-sipil/

https://www.tempo.co/politik/koalisi-sipil-serukan-solidaritas-warga-jaga-warga-2103633)

3. SHERLY ANNAVITA (Pemengaruh) 

Kreator konten dan pegiat media sosial, Sherly Annavita, mengaku menjadi korban teror dan intimidasi yang diduga berkaitan dengan aktivitasnya di ruang publik. Teror tersebut tidak hanya menyasar dirinya secara personal, tetapi juga merusak properti miliknya, mulai dari mobil yang dicoret hingga rumah yang dilempar telur busuk disertai tulisan bernada ancaman.

Pengakuan itu disampaikan langsung oleh Sherly melalui unggahan di akun Instagram pribadinya pada Selasa (30/12/2025) pagi. Dalam unggahan tersebut, Sherly membagikan sejumlah foto dan penjelasan mengenai bentuk teror yang ia alami dalam beberapa hari terakhir. Ia menyebut mobil pribadinya diberi tanda khusus oleh orang tak dikenal, sementara rumahnya menjadi sasaran pelemparan telur busuk. Selain itu, ditemukan pula coretan dan tulisan bernada intimidatif yang membuat dirinya merasa tidak aman.

“SAYA DITEROR!!! YUK BAGIKAN AGAR JADI KESADARAN BERSAMA. DM Instagram dan nomor pribadi juga sudah berhari-hari tidak luput dari makian dan ancaman. Semoga cara-cara seperti ini tidak lagi dilanjutkan. Karena merugikan kita semua sebagai sebuah bangsa,” tulis Sherly dalam keterangan unggahannya.

Sherly mengungkapkan bahwa teror tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga melalui ruang digital. Ia mengaku menerima pesan-pesan berisi makian, ancaman, dan intimidasi melalui pesan langsung (direct message) di media sosial serta nomor telepon pribadinya. Menurutnya, tekanan tersebut berlangsung terus-menerus dan berdampak pada rasa aman dirinya serta keluarga.

Kasus yang dialami Sherly menambah daftar panjang dugaan teror terhadap kreator konten dan individu yang aktif menyampaikan pandangan kritis di ruang publik. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah kreator konten, influencer, dan aktivis juga melaporkan pengalaman serupa, mulai dari ancaman verbal hingga tindakan teror yang menyasar keselamatan dan properti. Sejumlah warganet dan tokoh publik menyampaikan dukungan kepada Sherly melalui kolom komentar dan unggahan media sosial. Mereka mengecam segala bentuk teror dan intimidasi, serta mendesak aparat penegak hukum untuk segera mengusut kasus tersebut. Banyak pihak menilai tindakan semacam ini merupakan upaya pembungkaman yang tidak sejalan dengan prinsip demokrasi dan kebebasan berekspresi.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait langkah hukum yang akan ditempuh. Namun, masyarakat sipil mendorong agar kasus dugaan teror ini ditangani secara serius dan transparan, guna mencegah terulangnya intimidasi terhadap warga negara yang menggunakan haknya untuk berpendapat. Peristiwa yang menimpa Sherly Annavita kembali memunculkan kekhawatiran tentang keamanan dan perlindungan bagi kreator konten di Indonesia. Banyak pihak menilai negara perlu hadir lebih tegas untuk menjamin kebebasan berekspresi sekaligus memastikan bahwa setiap bentuk teror dan ancaman dapat diproses sesuai hukum yang berlaku.


Sumber:https://daerah.sindonews.com/newsread/1661343/174/sherly-annavita-diteror-mobilnya-dicoret-rumahnya-dilempar-telur-1767075125

4. VIRDIAN AURELLIO (Pemengaruh) 

Mobil milik pemengaruh Virdian Aurellio dirusak oleh orang tak dikenal di Jakarta Barat pada Senin, 22 Desember 2025. Virdian mengatakan kaca mobilnya dipecahkan dengan batu oleh sejumlah orang pada Senin dini hari. 

Pada pertengahan Desember 2025, dia mengalami doksing atau penyebaran informasi pribadi di sejumlah media sosial.

Selain doksing, Virdian mengaku mendapat fitnah. Puluhan akun di berbagai media sosial berusaha membunuh karakternya dengan menyebarkan fitnah bahwa dia memiliki usaha sawit, padahal tidak.

Di waktu yang hampir bersamaan, Virdian mengatakan ponselnya juga hampir disadap oleh orang tak dikenal. Tak hanya dirinya, keluarga maupun rekan-rekan terdekatnya juga mengalami hal tersebut.

Virdian mengatakan rangkaian teror itu dia terima setelah pulang dari misi kemanusiaan di Aceh. Di sana, dia bersama beberapa relawan membagikan sejumlah bantuan kepada warga yang terdampak banjir dan longsor. Selama di Aceh, Virdian juga membagikan informasi terkini dari tempat pengungsian. Informasi itu dia unggah melalui media sosialnya.

Sumber: https://www.tempo.co/hukum/mobil-virdian-aurellio-dirusak-orang-usai-pulang-dari-aceh-2104084

5. IQBAL DAMANIK (Manajer Kampanye Greenpeace Indonesia)

Iqbal Damanik, Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, menjadi korban teror pada akhir Desember 2025 setelah secara terbuka mengkritik penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera. Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan publik terkait respons pemerintah terhadap bencana ekologis yang besar di Pulau Sumatra.

Pada Selasa pagi, 30 Desember 2025, Iqbal menemukan kiriman bangkai ayam di teras rumahnya tanpa bungkus apa pun. Di bagian kaki bangkai ayam tersebut, terdapat plastic berisi selembar kertas dengan pesan ancaman yang menyerukan agar ia menjaga ucapannya demi keselamatan keluarga.

Rumah Iqbal yang terletak di Jakarta itu kemudian menjadi pusat kepanikan keluarga setelah bangkai ayam tersebut ditemukan oleh anggota rumah. Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, menyatakan bahwa kejadian ini merupakan bentuk intimidasi yang serius terhadap suara kritis dalam masyarakat, terutama mereka yang vokal menyuarakan isu lingkungan dan kebijakan publik.

Aktivitas Iqbal di media sosial dan pernyataannya kepada media—termasuk kritik terhadap lambatnya respons penanganan bencana di Sumatera dan faktor deforestasi yang memperburuk dampaknya—dipandang oleh sejumlah pihak sebagai alasan di balik teror tersebut.

Kasus teror terhadap Iqbal ini bukanlah yang pertama terjadi pada para pengkritik penanganan bencana. Sejumlah aktivis dan influencer lainnya juga mengalami ancaman dan tindakan serupa dalam beberapa hari terakhir, menunjukkan kemungkinan adanya pola intimidasi terhadap suara kritis di ruang publik. Para pengamat HAM dan organisasi sipil mengecam tindakan teror ini karena dapat mengancam kebebasan berekspresi dan partisipasi publik, terutama di saat bangsa menghadapi tantangan besar akibat bencana alam dan krisis lingkungan. Aparat keamanan didesak untuk mengusut tuntas motif dan pelaku di balik ancaman tersebut demi memastikan keselamatan para korban dan menjaga ruang kebebasan berpendapat di Indonesia. 

Teror yang dikirim ke rumah keluarga Iqbal Damanik, aktivis Greenpeace Indonesia, diduga terkait sikap kritisnya terhadap pemerintah. (Istimewa/Greenpeace Indonesia)

Sumber: https://ketik.com/berita/greenpeace-kecam-keras-teror-bangkai-ayam-ke-rumah-iqbal-damanik

6. YAMA CARLOS (Aktor) 

Aktor dan kreator konten dan aktivis Yama Carlos menjadi sorotan setelah meluapkan emosi usai dituding warganet sengaja membuat kontroversi demi popularitas. Tuduhan itu muncul setelah Yama mengunggah video yang menuai respons publik dan perdebatan di media sosial.

Menanggapi hal tersebut, Yama secara terbuka menantang netizen yang menilai reaksinya sebagai settingan. Ia menegaskan bahwa sikap dan pernyataannya murni bentuk ekspresi pribadi, bukan upaya mencari perhatian publik. Yama juga menyatakan keberatan atas penilaian sepihak yang terus diarahkan kepadanya.

Selain kritik, Yama mengaku menerima tekanan berupa komentar kasar dan teror digital. Situasi itu membuatnya mempertimbangkan langkah hukum. Namun, ia mengungkapkan keraguan untuk melapor ke polisi karena khawatir proses hukum tidak berjalan efektif dan justru memperpanjang polemik.

Peristiwa ini memicu respons beragam dari publik. Sebagian warganet mendukung Yama dan menilai ia berhak membela diri. Sementara itu, pihak lain tetap mempertanyakan sikap emosional figur publik dalam menghadapi kritik di ruang digital.

Sumber: https://www.grid.id/read/044337897/emosi-dituding-settingan-demi-popularitas-yama-carlos-tantang-netizen-hingga-ragu-lapor-polisi-gara-gara-hal-ini


No comments:

Post a Comment

TEROR TERHADAP PENGKRITIK

Serangkaian Teror yang menimpa aktivis dan pemengaruh media sosial yang mengkritik penanganan bencana di Sumatera. Mereka dikirim bangkai he...